POHON - POHON UJIAN
Kutatap seraut wajah cantik dihadapanku. Matanya mengabut. Mengisahkan peristiwa demi peristiwa yang menimpanya. Dia terlalu muda untuk mengalaminya, pikirku. Usianya baru duapuluh tiga tahun waktu itu. Saat dia mengambil jalan bercerai. Peristiwa paling menyakitkan dalam kehidupannya.
Aku hanya mampu diam. Tak ingin banyak bertanya. Apalagi berkomentar. Kudengarkan saja kisah demi kisahnya.
“Jika saja Allah menawariku sesuatu… Aku ingin Allah menghapus memoriku tentang dia!”
Deg! Jantungku berdetak semakin kencang.
Kulihat mendung dimata indahnya. Dia benar-benar cantik, setidaknya menurut banyak orang yang memandangnya. Siapa yang menyangka dibalik mata indahnya tersimpan kesedihan? Atau lebih tepatnya lagi sebuah kebencian? Siapa yang menyangka wanita seusianya berstatus janda? Sebuah pilihan yang tak mudah kurasa. Ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri bahtera rumah tangga yang baru mereka bina? Bukankah mereka menikah karena cinta?
Begitulah. Cinta ternyata tak dapat menjamin utuh mahligainya. Cinta tak dapat menjaga hati untuk tidak terluka. Cinta tak dapat membendung airmata. Justru karena cinta itulah membuat sahabatku pilu. Maka, niat sebuah pernikahan memang harus lurus. Mencari ridho-Nya.
Aku kagum… Sungguh… Ketegarannya melanjutkan hidup pasca perceraian membuatku kagum. Bagaimana tidak? Gunjingan orang tentangnya selama ini mampu ia lawan dengan diam dan senyum. Kita tidak dapat menutup mulut-mulut usil mereka untuk tidak berkata meskipun Islam telah melarang ghibah (membicarakan orang). Namun sahabatku itu tetap menjalani hidupnya dengan tenang dan berlapang dada. Dia berusaha menyelesaikan skripsinya yang tertunda dan berhasil wisuda. Dan kini, dia sudah bekerja. Perjuangan yang tak mudah. Menguras banyak energi dan airmata.
Saat aku berkunjung kerumahnya dan menginap beberapa malam disana. Aku jadi semakin mengaguminya. Dia benar-benar survive menjalani hidup. Ayahnya sudah meninggal dunia. Ibunya berada diluar kota merawat kakeknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Maka mau tidak mau dia harus alone menempati rumah yang besar itu. Namun dia tidak merasa sendiri. Ada Allah menemani.
Kuteguk susu coklat yang disajikan untukku. “Coklat bisa menenangkan pikiran,” begitu katanya. Aku hanya tersenyum…
Dia memandangiku. Angin berhasil mengusir mendung dimatanya. Entah, setiap bertemu denganku dia selalu mencoba berbagi rasa. Saat yang tepat untukku bertanya lebih jauh lagi. Mengapa dia lebih memilih perceraian itu? Karena aku ingin tahu alasan yang selama ini dia sembunyikan dariku. Aku ingin tahu! Mengapa dia juga mengikuti jejak ayah dan ibuku untuk bercerai?
Plas!!
Kukira dia marah. Tapi diluar dugaan dia justru benar-benar jujur mengisahkan semuanya padaku. Dari awal. Hingga pada akhirnya dia memutuskan menyudahi pernikahan itu.
“Suami itu adalah pemimpin… Seharusnya dia mendidik dan mengajarii istrinya untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Khalik.”
Diam menyelimuti kami. Ketegangan itu terasa lagi kini. Aku telah membuka lembaran hidup yang ingin ia tutup. Bahkan ingin dibuangnya sejauh mungkin.
“Maaf jika…”
“Gak papa.” Dia memotong kalimatku. Rupanya dia paham kalo aku jadi kikuk dan tidak enak hati membuka-buka kenangan itu.
“Bayangkan. Aku dididik oleh seorang ayah yang lulusan Gontor sedangkan suamiku menyentuh air untuk wudhupun tidak pernah?”
Aku menelan ludah. Tiba-tiba seperti ada yang mengganjal di tenggorokanku. Aku tak bisa berkata-kata. Bahkan untuk sekedar menghiburnya. Keputusan yang dia ambil sudah tepat jika memang karena Allah semata. Menurut penuturannya, dia sudah berusaha dengan berbagai cara agar suaminya sholat, meski hanya sebatas menunaikan kewajiban, meski belum menganggap sholat untuk memenuhi kebutuhan jiwanya. Dia sudah mengingatkan. Namun bukan kebaikan yang dia dapatkan, tapi kata-kata kasar dan pukulan. Begitukah cara suami membuktikan cinta pada belahan jiwanya? Pada wanita yang dinikahi karena cinta?
Karena wanita ingin disayangi? Ingin dipahami? Ingin dimengerti?
Mungkin itu alasan yang lainnya mengapa kapal itu karam. Ketika sudah tidak ada lagi cinta dan kasih sayang… untuk apa dipertahankan? Pertengkaran demi pertengkaran yang sering terjadi memicu perceraian itu. Mungkin sudah tertulis dibuku kehidupanku jika aku harus mengalami episode ini.
Sahabatku tersenyum. Meski masih ada luka dihatinya. Seperti aku terluka karena perceraian ayah dan ibu yang aku sayangi. Kita semua tentu tidak ingin terluka? Atau Menangis bukan? Tapi jika itu adalah bagian dari apa yang harus kita mainkan untuk mendapat cinta-Nya, mengapa tidak? Kita harus siap melakukannya.
Sekarang, aku mengerti. Bahwa hidup ini adalah ujian dan kita diuji hanya menurut kemampuan kita saja. Jika Allah banyak menguji kita, berarti Allah semakin sayang dan meningkatkan kecintaan-Nya untuk kita. Seperti pohon yang tumbuh, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Seperti itulah hidup kita, semakin tinggi tingkat keimanan kita maka akan semakin banyak pula ujian-ujian dari-Nya yang harus kita lalui.